No Image Available

Haji Komunis: Biografi Haji Misbach

 Author: Ngarjito Ardi  Category: Filsafat  Publisher: Filosofis Indonesia Press  Published: November 1, 2025  ISBN: 978-623-09-5332-3  Pages: 56  Country: DI Yogyakarta  Language: Indonesia  Dimension: A5 More Details
 Description:

Baca      Pesan

Mohammad Misbach, atau Haji Misbach, dikenal sebagai tokoh yang menempati posisi unik dalam sejarah Indonesia. Ia adalah sosok yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam, namun pada saat yang sama memiliki kedekatan pemikiran dengan komunisme. Perpaduan ini membuatnya berbeda dari tokoh-tokoh sezamannya. Kejujurannya dalam meneladani karakter Nabi Muhammad tidak menghalanginya untuk mengapresiasi gagasan Karl Marx yang menurutnya relevan dalam melawan ketidakadilan sosial. Karena itu, ia dianggap sebagai jembatan antara semangat religius dan gerakan perlawanan terhadap penindasan.

Dalam karya Soe Hok Gie berjudul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, Haji Misbach mendapat julukan “Haji Revolusioner.” Julukan ini mencerminkan komitmennya dalam perjuangan sosial tanpa meninggalkan identitas keislamannya. Misbach melihat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan tidak hanya lahir dari ideologi tertentu, tetapi juga merupakan bagian dari misi moral seorang muslim. Dengan memadukan nilai-nilai spiritual dan kepekaan sosial, ia menempatkan dirinya sebagai tokoh yang menolak melihat agama dan perjuangan kelas sebagai dua hal yang bertentangan.

Bagi Haji Misbach, kapitalisme merupakan akar dari berbagai bentuk keserakahan dan tindakan zalim. Ia menilai bahwa sistem kapitalis melahirkan ketimpangan dan eksploitasi yang mengorbankan rakyat kecil. Karena itu, Islam yang dipahaminya tidak mungkin menerima kapitalisme sebagai sistem yang adil. Ia melihat bahwa komunisme, dengan prinsip kesetaraan dan kepeduliannya terhadap kaum tertindas, memiliki titik temu dengan nilai-nilai Islam yang menekankan keadilan, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada golongan lemah.

Pemikiran Misbach juga didasarkan pada rujukan agama, terutama ayat 75 surat An-Nisa, yang menyerukan perlunya umat melawan kezaliman, bahkan apabila harus ditempuh melalui perlawanan bersenjata. Dari ayat ini, ia menyimpulkan bahwa melawan ketidakadilan bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban moral seorang muslim. Karena itu, perjuangan komunisme yang ia anut diartikannya bukan sebagai penolakan terhadap agama, melainkan sebagai perpanjangan dari ajaran Islam untuk menegakkan keadilan dan membela kaum tertindas.

 Back